Artikel

Home / Artikel

OBESITAS PADA SAAT KEHAMILAN

Cara pandang akan selalu berubah. Demikian juga cara pandang terhadap bentuk tubuh. Dahulu, kelebihan berat badan dianggap sebagai simbol kemakmuran. Pandangan ini bergeser dan kelebihan berat badan dianggap mengurangi keindahan bentuk tubuh. Perkembangan terakhir, cara pandang ini berubah lagi, mengarah pada kesadaran akan pentingnya hidup sehat.

Kegemukan kini dianggap membahayakan kesehatan. Kegemukan terbagi atas dua jenis, overweight yakni kondisi yang menunjukkan berat badan berlebih, dan obesitas yang merupakan kelebihan berat badan yang mencapai 120% di atas berat badan ideal (BBI).

Wanita dikatakan obesitas bila memiliki komposisi lemak tubuh lebih dari 25 persen dari berat badan, sedangkan laki-laki dikatakan overweight bila komposisi lemak tubuhnya lebih dari 20 persen berat badan.

Kebanyakan wanita hamil mengalami obesitas karena kelebihan makan. Mitos yang mengatakan bahwa ibu hamil makan untuk dua orang menjadikan para wanita hamil makan dengan porsi berlebih. Akhirnya, terjadilah penumpukan kalori dan sisa asupan energy yang berujung pada diabetes. Mitos tersebut keliru, sebenarnya makan wanita hamil hanya naik rata-rata 10-15 persen.

Wanita hamil disarankan untuk mengatur berat badan agar tetap berada pada kondisi ideal. Peningkatan berat badan pada trimester pertama memang relative sedikit, tidak naik atau bahkan berkurang karena muntah-muntah. Peningkatan berat badan yang cukup pesat terjadi di trimester 2 dan 3, pada periode inilah perlu dilakukan pemantauan ekstra terhadap berat badan.

Seusai persalinan, ragam komplikasi masih menunggu. Infeksi usai bersalin akibat banyaknya pembuluh darah si ibu hamil yang tersumbat sering terjadi. Selain itu, lemak yang berlipat pada lapisan kulit merupakan media yang kondusif untuk tumbuhnya kuman sehingga infeksi pun rentan terjadi.

Risiko lainnya, plasenta yang berfungsi menyuplai oksigen menyempit karena lemak. Padahal, terhambatnya suplai oksigen dapat merusak sel-sel otak janin. Sehingga kecerdasan si kecil pun bisa jadi berkurang. Kemungkinan buruk lain, janin bisa mengalami gangguan paru-paru maupun terlahir obesitas.

Pencegahan Obesitas saat Kehamilan:

  1. Hal pertama yang dilakukan dokter adalah melakukan tes di trimester awal. Perlu dilakukan pemeriksaan gula darah, tekanan darah, dan pengukuran berat badan. Pemeriksaan ini diulang lagi di akhir trimester ketiga untuk mengetahui apakah sang ibu berisiko terkena diabetes dan hipertensi. Selanjutnya, dilakukan pemantauan terhadap perkembangan janin dari bulan ke bulan.
  2. Pencegahan lainnya adalah dengancara membatasi kalori. Cara ini memang sering jadi perdebatan karena di sisi lain, janin membutuhkan nutrisi lebih. Pengurangan kalori dikhawatirkan akan mengganggu perkembangan janin. Yang terpenting, komposisi makanan harus seimbang. Selain mengatur pola makan, dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik. Jalan pagi sangat baik untuk menjaga kondisi ibu tetap sehat.
  3. Bila asupan nutrisi dari makanan yang dikonsumsi tidak mencukupi, sebaiknya mengonsumsi suplemen kesehatan. HDI Clover Honey, sebagai madu terbaik yang tidak melalui proses pemanasan ataupun penyaringan sehingga kandungan enzim dan nutrisinya tetap utuh. Dilengkapi dengan konsumsi HDI Pollenergy 520 yang mengandung lebih dari 200 jenis nutrisi diantaranya: karbohidrat, protein/ asam amino; vitamin dan mineral; serta enzim yang diperlukan untuk memaksimalkan proses penyerapan nutrisi oleh tubuh maka asupan nutrisi ibu saat hamil dapat terpenuhi.
  4. Bila saat kehamilan mengalami obesitas, perlu dilakukan penanganan khusus. Sang ibu pun harus bersikap tenang karena sikap tenang sangat bermanfaat bagi perkembangan janin. Pilihlah klinik atau rumah sakit dengan fasilitas lengkap. Ini sebagai antisipasi jika ibu membutuhkan tindakan medis yang lebih kompleks.

Learn More

If you can think of anything we missed, let us know by sending your mail to :
careonline@breakthrough-generation.com
or
superb.breakthrough@gmail.com